Sabtu, 4 Januari 2025, pukul 18.07 WIB, kami tiba di POS Pendakian Putuk Siwur. Setelah beristirahat sejenak dan melaksanakan shalat, kami melanjutkan perjalanan dari Malang-Mojokerto.
Setelah istirahat 15 menit, kami melanjutkan pendakian Putuk Siwur (1.629 mdpl). Kami berhenti sejenak di Warung Tengah Alas sebelum melanjutkan pendakian.
Namun, kami tidak menyadari jalur Putuk Siwur yang berada di sebelah kanan karena kondisi malam hari yang gelap dan kurangnya petunjuk arah. Kami mengikuti jalur sebelah kiri dekat toilet, tanpa menyadari kesalahan jalur tersebut.
Beberapa waktu kemudian, kami berhenti sejenak untuk minum air putih di tengah jalur pendakian setelah Tanjakan Patas. Saya sempat meragukan jalur tersebut karena terasa salah, namun teman saya mengatakan, "Lanjut ae, wes jon!"
Keraguan saya meningkat di jalur menanjak dan berbatuan yang sepi. Saat saya bertanya apakah jalur ini benar, teman saya menjawab, "Melok feelingku, jon!" (mengikuti intuisi). Saya memutuskan untuk melanjutkan, menekan keraguan dan menghindari kepanikan.
Di perjalanan, saya dan teman saya terlibat adu argumen. Ia ngotot dengan feelingnya, sedangkan saya ragu dan berpikir harus mencari solusi yang masuk akal.
Teman saya bertanya, "Ambune opo iki?" (Bau apa ini?)
Saya menjawab, "Wes jarno, ojok dibahas" (Sudah, biarlah, jangan dibahas).
Saat itu, saya mencium aroma parfum cokelat yang semerbak melewati jalur tersebut. Saya berpikir tidak mungkin ada orang yang lewat dan memakai parfum tersebut.
Sampai di POS Bayangan, kami bingung karena menemukan dua jalur: Putuk Watu dan Putuk Kentongan.
Di POS Bayangan, kami memutuskan untuk berhati-hati agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Teman saya, Si A, menyarankan untuk mencoba jalur Putuk Watu, namun saya ragu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah ke jalur Putuk Kentongan.
Di jalur pendakian Putuk Kentongan, kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, kami menemukan jalur tengah yang menuju Puncak Putuk Siwur.
Sampailah kami di Puncak Putuk Siwur pukul 20.45 WIB. Di Puncak Putuk Siwur, kami bertemu pendaki yang sedang berkemah. Seorang pendaki bertanya, "Tektok ya, Mas?"
"Iya, Mas, sambil nunggu sunrise," jawab teman saya.
"Jam sembilan malam baru sampai, nunggu sampai pagi lama sekali, Mas. Apalagi disini dingin sekali. Tapi di situ hanya ada gubuk kecil," tambah pendaki lainnya.
Setelah itu, kami menunggu di puncak. Sekitar pukul 22.00-23.00 WIB, saya dan teman saya berbagi lelucon karena merasa seperti jaga malam di gubuk kecil. Saya tertawa lepas di malam hari yang gelap itu.
Namun, karena pendaki lain sudah tidur, saya menahan tawa agar tidak NGABRUT (ngakak brutal). Beberapa kali saya mengajak teman saya turun karena kami hanya "tektok", bukan berkemah. Namun, dia menolak karena ingin menunggu sunrise.
Kami menunggu di gubuk kecil dari pukul 21.00 hingga 23.25, merasakan kedinginan. Pukul 23.30, kabut mulai hilang. Saya mengajak teman saya turun lagi.
"Ayo, mudun! Opo jare, engkok wes pokok mudun sek?" (Ayo turun dulu), kata saya.
Kami bergegas turun melalui jalur sebelumnya. Di jalan yang dipenuhi batu dan gelap gulita, akhirnya kami menemukan jalur turun Putuk Siwur.
Kami merasa senang menemukan jalur yang benar, karena sebelumnya kami salah jalur ke Putuk Watu dan Putuk Kentongan. Di Warung Tengah Alas, kami berhenti sejenak. Awalnya, kami berniat melanjutkan turun, namun saya mengajak Si A untuk beristirahat hingga pukul 03.00 dini hari dan melanjutkan pendakian Putuk Siwur untuk melihat sunrise seperti keinginannya.
Minggu, 5 Januari 2025, kami tiba di Puncak Putuk Siwur pukul 03.45 dini hari. Sambil menunggu pagi yang cerah, kami menghangatkan diri di api unggun penduduk setempat.
Pukul 06.00, kami berfoto bersama pendaki lainnya. Beberapa jam kemudian, kami memulai turun, namun sempat kesulitan menemukan jalur karena saya belum tidur sama sekali dan Si A kurang tidur.
Dalam perjalanan, kami banyak makan untuk mengisi energi. Akhirnya, kami tiba di rumah dengan selamat. Tepuk tangan (Prok-prok).

Komentar
Posting Komentar